Minggu, 09 Mei 2010

Pendidikan Anak dalam Kandungan



Oleh:  Ust. Abdurrohman al-Buthoni.
Islam memberi bimbingan yang berharga kepada orang tua khusunya tentang apa yang harus mereka lakukan demi kemaslahatan anak-anak mereka sejak di dalam rahim. Terlebih lagi jika mereka mengingat hadits Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti sabdabya tentang janin setelah ditiupkan roh di perut ibunya lalu ditulis baginya rezeki, amal, celaka atau bahagia (HR.Bukhori 6594 dan Muslim 2643). Maka hal ini akan menjadikan orang tua semakin bersemangat keras untuk mengusahakan sebab-sebab tercapainya kebahagiaan anak mereka, karena Alloh tidak menjadikan kebahagiaan dan kebinasaan kecuali menjadikan pula sebab-sebab yang menuju kepada keduanya.
Sebagai contoh, keluarga Imron yang sholih, isterinya yang sholihah mengandung seorang bayi, ia sangat berharap kepada Alloh untuk kebahagiaan apabila anak yang dikandungnya lahir sebagai anak laki-laki maka ia akan mempersembahkannya kepada Alloh unutk menjadi pelayan di Baitul Maqdis, karena ia bernadzar kepada Alloh:
إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
 (Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Ali Imron:35)
Ini adalah pelajaran yang bermanfaat bagi pelaku tarbiyah terutama bapak ibu, betapa pentingnya pendidikan ibu di dalam kandungan dan betapa besarnya pengaruh postif dari kesholihan bapak dan ibu terhadap bayi yang dikandung sebelum lahir ke alam dunia. Isteri Imron  yang berasal dari keluarga yang mulia pilihan Alloh, bersama keluarga Ibrohim, Nuh, Adam, sangat nampak dari kisah ini bagaimana ia melakukan sebab-sebab yang baik dalam mengharapkan keturunan yang shalih. Dia banyak berdo’a ikhlas, rajin beribadah, dan merendahkan diri kepada Alloh Ta’ala. Oleh karena itu Alloh mengabulkan do’anya.
Berkata Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah: Yaitu terjadinya kecocokan antara sesama mereka  dalam ciptaan akhlaq yang mulia, artinya anak-anak, keturunan mereka mengikuti bapak-bapak mereka, sebagaimana dalam ayat (yang artinya): Dan kami lebihkan pula derajar sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Dan kami telah memilih mereka untuk menjadikan nabi-nabi dan rosul-rosul, dan kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-An’am:87)
Ini kisah dari umat-umat terdahulu. Adapun dari umat Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak, misalnya kisah ummu Sulaim dengan suaminya, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik .
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, "Anak laki-laki Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia. Maka isterinya berkata kepada keluarganya, “Jangan kalian beritakan kepada Abu Thalhah tentang kematiannya, sampai aku sendiri yang mengabarkannya!”. Kemudian Abu Thalhah pun datang dan dihidangkan kepadanya makan malam, maka ia pun makan dan minum”.
Sang istri kemudian berdandan bahkan lebih indah dari waktu-waktu sebelumnya. Setelah dia merasa, bahwa Abu Thalhah telah kenyang dan puas dengan pelayanannya, sang isteri bertanya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang meminjamkan sesuatu kepada sebuah keluarga, lalu mereka mengambil barang yang dipinjamkannya, apakah mereka berhak menolaknya?” Ia berkata, “Tidak (berhak)!” “Jika demikian, maka mintalah pahalanya kepada Allah Ta’ala tentang puteramu (yang telah diambil-Nya kembali)”, kata sang istri. Suaminya berkata, “Engkau biarkan aku, sehingga aku tidak mengetahui apa-apa, lalu engkau beritakan tentang (kematian) anakku?”
Setelah itu, ia pun mendatangi Rasulullah, lalu ia ceritakan apa yang telah terjadi. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah Ta’ala memberkahi kalian berdua tadi malam”. Lalu isterinya mengandung dan melahirkan seorang anak. Kemudian Abu Thalhah berkata kepada istrinya, 'Bawalah dia kepada Nabi'. Lalu dia juga bawakan untuknya beberapa buah kurma. Nabi lalu mengambil anak itu seraya berkata, 'Apakah dia membawa sesuatu?'” Mereka berkata, “Ya, beberapa buah kurma”. Nabi kemudian mengambilnya dan mengunyahnya, lalu diambilnya dari mulutnya, kemudian diletakkannya di mulut bayi itu dan beliau menggosok-gosokkannya pada langit-langit mulut bayi itu, dan beliau menamainya Abdullah'." (HR. al-Bukhari, 9/587 dalam al-Aqiqah, Muslim no. 2144).
Syahid yang kita ambil dari kisah ini adalah perkaaan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Semoga Allah Ta’ala memberkahi kalian berdua tadi malam”.
Ini menunjukkan begitu besar perhatian Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pendidikan anak yang ditunjukkan pada Ummu Sulaim sejak anak mulai dari setetes air dalam rahim ibunya.
Petunujuk Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengauli isterinya yaitu do’a: “Dengan nama Alloh. Ya Alloh jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami.”(HR. Bukhari:5165), karena kata Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hadits: “Apabila Alloh mentaqdirkan dari pergaulan tersebut maka tidaklah akan disentuh oleh setan karena setiap anak yang lahir pasti menangis karena tusukan syetan.”
Sungguh, alangkah menankjubkan hikmah ilahiyah yang menghubungkan antara kesholihan bapak dengan ibunya selagi di alam kandungan. Karena itu, sangatlah patut bagi orang tua, khususnya para ibu selagi dalam masa hamil hendaknya:
-Mereka bersabar dari segala macam musibah baik sakit kekurangan, kematian anak keluarga atau lain-lain.
-Hendaknya mereka banyak beramal shalih, berdo’a, berdzikir, tilawah al-Qur’an, tholabul ilmi, shodaqoh, dan amalan-amalan sunnah dengan ikhlas, tawakal, penuh pengharapan akan lahirnya anak yang sholih. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.
Dan kebalikannya, bahwa kecenderungan seorang ibu yang sedang hamil kepada kebatilan, senang dengan tontonan batil, pendengaran batil, dan lalai dengan hukum-hukum Alloh dan Rasul-Nya akan berpengaruh negatif pada bayi  yang ada dalam kandungannya. Fakta kedokteran membuktikkan bahwa wanita hamil yang banyak tingkah, bayi yang akan dikandunganya akan ikut bertingkah banyak. Sedangkan wanita hamil yang banyak diam dan tenang, bayinya ikut tenang tidak banyak bertingkah. Ini adalah hubungan antara ibu dengan bayi secara jasmani yang tentunya hubungan keduanya secara rohani demikian juga, bahkan lebih, karena roh lebih berpengaruh terhadap jasad ketimbang sebaliknya.
Sesungguhnya Sahl at-Tusturi telah mendidik anak-anaknya semenjak masih dalam sulbinya, maka ia selalu beramal sholeh dengan harapan agar Alloh memerikan kepadanya dengan anak yang shalih seraya berkata: “Sesunggunya aku memegang janji Alloh yang diambil oleh Alloh kepadaku sejak di alam arwah dan sesunggunya aku memelihara anak-anaku mulai saat itu hingga mereka dikeluarkan oleh Alloh ke alam dunia.”
Nabiyullah al-Khidir membangun tembok secara sukarela bersama Nabiyullaoh Musa dan keduanya tidak meminta upah. Takala Nabi Musa berkata kepadanya: “Seandainya engkau mengambil upah dari pekerjaan ini”, beliau (khidir) menjawab: “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyakan dua anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua sedang ayah mereka adalah seseorang yang sholih.” (QS. al-Kahfi:82).
Ibnu Kastir berkata: “ini adalah dalil bahwa orang shalih dijaga keturunannya oleh Alloh dan barokah ibadahnya meliputi mereka di dunia dan akherat dengan syafaatnya buat mereka dan Alloh mengangkat derajat mereka setinggi-tingginya di surga sehingga ia bertambah kebahgaiaannya sebagaimana hal ini diterangkan dalam al-Quran dan as-sunnah. Untuk menjaga kemaslahatan pendidikan janin dalam kandungan, maka syariat memberi keringanan bagi wanita hamil untuk tidak berpuasa pada bulan ramadhon apabila ia khwatir terhadap janinnya. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Apabila wanita hamil khawatir terhadap kemaslahatan dirinya atau bayi yang dikandungnya di bulan ramadhon maka ia berbuka dan memberi makan setiap hari seorang miskin dan tidak menqodho puasa. (baihaqi 4/230 dengan sanas yang kuat).
Sumber:
Majalah al-Mawaddah, edisi 5 Tahun ke-1: dzulqo’dah-Dzulhijjah 1428H: Desember 2007


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by YummyLolly.com / Header Butterfly by Pixels + Ice Cream